“Apakah anak
saya tergolong Hiperaktif??”
Seringkali
orang tua mengeluhkan anaknya yang terlalu aktif. Tak jarang, timbul pertanyaan
di benak mereka, apakah hal ini termasuk gangguan? Bagaimana ciri-ciri anak
hiperaktif dan cara mengatasinya? Bukankah anak
yang sehat seharusnya memang aktif dan hal ini normal-normal saja? Begitu juga
dengan saya, saat melihat tingkah putri kecil saya.
Ya, tak sedikit
orangtua yang bingung dengan keaktifan anaknya. Karena itulah, Sani B.
Hermawan, Direktur Lembaga Psikologi Daya
Insani, Jakarta, membeberkan ciri-ciri dari ADHD, ADD, superaktif, dan aktif,
sehingga orangtua dapat membedakannya dan memberikan penanganan yang tepat bagi
buah hati tercinta.
Gangguan
pemusatan perhatian yang disertai dengan gejala hiperaktivitas motorik dikenal
sebagai Attention Deficit Hiperactivity Disorder (ADHD)
atau Attention Deficit Disorder (ADD) yang terjadi
dengan prevalensi 3-5% pada rentang usia 4-14 tahun. Ciri-ciri anak
hiperaktif dapat mulai dikenali sejak usia anak 6 bulan.
1. ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
Ciri-ciri:
* Hiperaktivitas.
Anak tak bisa diam dalam waktu lama dan mudah teralihkan perhatiannya pada hal lain. Ciri lainnya, tidak fokus bicara alias mengeluarkan saja apa yang ingin dikatakannya tanpa peduli apakah lawan bicara mengerti/tidak apa yang dibicarakannya. Anak juga cuek ketika ada yang memanggilnya.
* Anak sulit "diberi tahu".
Bila orangtua melarang atau memintanya melakukan sesuatu, ia cuek atau tetap melakukan apa yang ingin dilakukannya.
*Destruktif.
Anak suka merusak. Mainan tak digunakan sebagaimana mestinya, tapi bisa dibanting-banting hingga rusak.
* Impulsif.
Suka melakukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas, sekadar menuruti keinginannya saja. Misal, ia ingin naik turun tangga dan itu dilakukan tanpa tujuan.
* Tak kenal lelah.
la bisa terus berlarian keliling rumah seharian meski orangtua sudah memintanya berhenti.
* Intelektualitas rendah.
Karena perhatiannya mudah teralihkan, dia hanya menerima informasi sepotong-sepotong. Akibatnya, apa yang diajarkan padanya tidak utuh diterima.
2. ADD (Attention Deficit Disorder)
Di Indonesia, kasus ADD tak sebanyak ADHD. Meski sama-sama mengalami gangguan pemusatan perhatian, tapi anak ADD tak disertai hiperaktivitas. Walaupun sedang duduk diam, anak sepertinya mendengarkan penjelasan yang diberikan padanya, tapi informasi itu hanya diterima sepotong-sepotong karena perhatiannya mudah teralihkan.
3. SUPERAKTIF
Ciri-ciri:
* Bisa tetap fokus.
Meski sekilas anak ini terus bergerak/ tak bisa diam, tapi dia tidak mengalami gangguan pemusatan perhatian. la tetap fokus dengan apa yang dikerjakannya saat itu. Bila diberikan mainan yang membutuhkan penyelesaian, seperti pasel, ia akan menyelesaikannya. Beda dengan anak hiperaktif, yang cepat bosan dan tak menyelesaikan permainannya.
* Konstruktif.
Tenaganya yang berlebih digunakan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan padanya. Setidaknya, ia akan berusaha untuk menyusun secara konstruktif permainan yang diberikan.
* Bisa merasa lelah.
Setelah lelah melakukan aktivitasnya, anak juga bisa capek. Biasanya kalau capek, ia akan berhenti dan istirahat/tidur.
* Intelektualitas lebih baik.
4. AKTIF
Ciri-cirinya hampir sama dengan anak superaktif, bedanya, tenaga anak aktif lebih sedikit.
Meski sama-sama terus bergerak, tapi anak aktif punya batasan yang hampir sama dengan anak normal. Umumnya cerdas, ia terus bergerak untuk mencari tahu hal-hal yang membuatnya penasaran. la bisa menyelesaikan dengan baik tugas yang diberikan. Pada beberapa bidang, umumnya juga lebih kreatif
Penyebab
Anak Hiperaktif
Adanya
kerusakan kecil pada bagian sistem saraf pusat dan otak, sehingga rentang konsentrasi
anak menjadi lebih pendek dan sulit dikendalikan. Timbulnya kerusakan ini bisa
disebabkan karena bawaan dari lahir, epilepsi, malfungsi otak, atau pengaruh
lingkungan. Bisa juga karena gangguan di kepala seperti trauma kepala, infeksi,
keracunan, gizi kurang, atau alergi makanan.
Cara
Mengatasi Anak Hiperaktif
Jika Anda
menemukan gejala serupa, jangan langsung mendiagnosis anak hiperaktif. Amati
perkembangannya dan bandingkan dengan anak sebayanya. Konsultasikan juga pada
dokter anak mengenai kondisi anak sebenarnya. Jika perlu, Anda dapat
berkonsultasi dengan psikolog anak. Jika Anda biarkan begitu saja hingga
dewasa, anak bisa jadi antisosial.
http://magazine.orami.co.id/

Komentar
Posting Komentar